
Kamis, November 27, 2008
Pameran Karya Antistres

Rabu, November 26, 2008
Anjing-anjing Berlari Gelisah

Pameran Jamu Anti Stress
Menghadirkan berbagai karya, komunitas seniman muda dari Surabaya, dan Tuban, berkolaborasi dalam Pameran Jamu Anti Stress. Digelar di Galeri Surabaya, satu di antara karya HEN INDRA dari Tuban, sangat menggelitik. Mengusung mix media, yang memadukan akrilik dan berbagai media lainnya, menyodorkan gagasan tentang fitnah terhadap satwa. "Tikus selalu dianggap sebagai lambang korup. Padahal, tidak semua tikus korup. Ini fitnah toh," ujar HEN INDRA. (Totok Sumarno/ suarasurabaya.net, 25 November 2008)
Jamu Anti Stress di Balai Pemuda
Adalah sesuatu yang wajar jika melukis di kanvas yang kemudian dipigura. Selanjutnya karya itu bisa dinikmati pengunjung pameran dengan ditempelkan pada dinding atau papan datar horisontal. Tapi pada pameran lukisan Jamu Anti Stress yang digelar di Galeri Surabaya, Balai Pemuda, Selasa (25/11), cukup berbeda. Ada beberapa lukisan yang dibuat di atas media plastik dan papan skateboard serta permukaan kaleng berbentuk kotak.
Tak kalah beda, piring yang permukaannya bergambar berbagai jenis makanan, tampak dijajarkan di tengah ruang pamer. “Jajaran lukisan di piring ini adalah imajinasi atau makanan ilusi,” kata Hen Indira, pelukis piring. Selain Hen, juga dipamerkan lukisan karya Imam Sucahyo, Endy L, dan Sutarno Masteng.
Beberapa pengunjung pameran, memang tampak terkejut dengan lukisan yang dipamerkan. Apalagi bisa dibilang bentuknya awut-awutan. “Tapi kami sadar, karya seniman memang aneh-aneh. Bagi saya cukup menarik lah,” ujar Wibawa, salah satu pengunjung.(rie/ Harian Surya, 26 November 2008)
Senin, November 24, 2008
Taufik 'Monyong' Gelar 'Agretion'
.jpg)
Prajurit Roma Berbahasa Kuba Naik Vespa
Hasta la victoria seem pre! Prajurit Roma itu terus meneriakkan pekik perjuangan,maju terus pantang mundur.
Aneh memang, seorang prajurit Roma naik vespa butut melakukan orasi dengan bahasa Kuba mengelilingi Surabaya. ”Patria o muerte! Vox populi vox dei!” teriak prajurit Roma berkulit sawo matang itu yang berarti, tanah air atau mati, suara rakyat suara Tuhan. Begitulah adegan dalam video art yang ditampilkan Taufik Monyong dalam pameran yang bertajuk Agretion.
Video tersebut semakin terkesan heroik karena diiringi lagu underground dari band asal Surabaya, Pejah. Pameran lukisan di Galeri Surabaya Balai Pemuda ini gelar dari 17 hingga 21 November mendatang. Selain Monyong, pameran itu menampilkan lukisan karya Junaidi dan Poernadi. Memasuki ruang pamer, pengunjung disuguhi batubatu nisan berbalut kain hitam.
Pada dindingnya tergantung lukisan-lukisan bertema semangat agresi. Di antara lukisan-lukisan itu nangkring vespa butut penuh coretan. Di atasnya, televisi 14 inci memutar aksi gila Taufik Monyong bak prajurit Roma tadi berkeliling Surabaya. ”Inilah kontemporer,” jawab Monyong saat ditanya mengapa prajurit Roma malah berbahasa Kuba.
”Indonesia sudah saatnya melakukan agresi, perluasan atau ekspansi. Persoalan rumah tangga seperti harga BBM maupun pornografi seharusnya sudah selesai,” kata Monyong yang membutuhkan waktu tiga bulan menyiapkan pameran ini. Vespa butut adalah simbol agresi negara lain ke Indonesia. Agresi negara lain itu kini sudah dianggap kuno (butut) dan sudah waktunya berbalik, Indonesia yang melakukannya. Bahasa Kuba yang digunakannya tidak lebih dari bentuk kekagumannya sang pemimpin gerilya Che Guevara.
“Sebelum beraksi, saya harus menghafalkannya lebih dulu,” katanya sambil tertawa. Sementara prajurit Roma sudah pasti semangat ekspansi yang disampaikannya. Ada yang menarik saat ditanya dari mana Monyong mendapat ide pameran dan video art ini. Mantan aktivis 98 itu mengaku, gagasan berawal dari mimpinya bertemu Soekarno, Presiden RI pertama.
“Waktu mimpi itu, saya sedang naik vespa. Lalu Soekarno bilang urusan rumah tangga negara ini seharusnya sudah selesai. Sudah saatnya melakukan agresi,” kata Monyong dengan mimik serius. Selain video art, Monyong menampilkan 14 lukisan, sedang Poernadi menampilkan 1 lukisan, dan Junaidi menampilkan 4 lukisan.
Salah satu lukisan berjudul “Freedom” tampak begitu sangar dan emosional.”Gerakan menuju perubahan bisa dianggap orang lain bagai pengaruh jahat.Padahal,semua itu diperjuangkan untuk menuju sebuah kemerdekaan,freedom,” kata Monyong. (Zaki Zubaidi, Koran Sindo, 17 November 2008)
Pameran ‘Agretion’, Jangan Melupapakan Sejarah
.jpg)
Keindahan Alam Goresan Hamid Nabhan

Jumat, November 07, 2008
Harmoni Aliran di Balai Pemuda
Tidak mudah menyatukan berbagai gaya dan aliran para seniman. Namun, itu bukanlah hal yang mustahil. Bertajuk Harmoni, pameran lukisan di Galeri Surabaya, Balai Pemuda, hingga 9 November mendatang itu mencoba membuktikan perpaduan tersebut.
Sebanyak 24 lukisan karya 17 seniman dari kelompok Serumpun Bambu terpajang memutari ruangan galeri. Berbagai objek dan aliran mencoba memberi suguhan menarik untuk penikmat lukisan. Mulai gaya realis, dekoratif, surealis, hingga kaligrafi tersaji dengan berbagai teknik dan media. Ada yang menggunakan media palet. Ada juga yang memakai tinta dengan teknik drawing.
Salah seorang pelukis yang menggunakan palet adalah Ahmad Djunaidi. Dalam pameran tersebut, pelukis 31 tahun itu menyumbangkan dua karya. Membidik objek kawasan Pasar Pabean dan Jembatan Merah, Djunaidi menyuguhkan lukisan bergaya realis impresionis yang kental dengan gaya goresan spontan. Dua lukisan tersebut dilukis langsung di tempat alias on the spot. Hasilnya, Djunaidi berhasil merekam segala aktivitas orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar kawasan tersebut. Ada kumpulan para pedagang, ada juga sekawanan laki-laki bersepeda.
Pemilihan objek tersebut beralasan. "Saya ingin mengabadikan bangunan dan kawasan bersejarah Surabaya pada zaman sekarang. Sebab, di masa yang akan datang, bangunan-bangunan itu belum tentu masih ada," jelas Djunaidi.
Untuk lukisan bergaya dekoratif, pelukis muda Ali Topan menyuguhkan satu lukisan. Mengambil tajuk My World, Ali menggambarkan detail dunia anak-anak sesuai dengan daya imajinasi. Dengan menggunakan media cat acrylic, dia melukis anak-anak yang tengah berlarian, sapi terbang, hingga kuda dengan badan bermotif kotak-kotak di sebuah padang rumput yang penuh dengan jamur berukuran raksasa. Lukisan dekoratif itu disebut naive decorative.
Selain lukisan realis dan dekoratif, ada juga lukisan surealis yang bisa disaksikan. Salah satunya, karya pelukis Suyono. Lewat karyanya yang berjudul depression, Suyono mengambil objek sebuah sepatu bot hitam berukuran besar yang terisi penuh dengan cairan hijau. Saking penuhnya, cairan tersebut tumpah ke lantai. Tepat di atas sepatu tersebut, terdapat sebuah tangan berbalut sarung tangan putih yang membawa sebuah tongkat. Lukisan itu merupakan simbol otak manusia yang memiliki keterbatasan.
Pameran lukisan bersama tersebut merupakan pameran perdana dari Serumpun Bambu. Berawal dari kegiatan kumpul-kumpul para pelukis itu memiliki ide untuk membentuk kelompok dan akhirnya mengadakan pameran bersama. (ken, ayi/ Jawa Pos, 6 November 2008)
Kamis, November 06, 2008
Agenda Galeri Surabaya, November 2008
04-09 Pameran Lukis Bersama Serumpun Bambu: HARMONI. 12-16 Solo Exhibition: SYMPHONY OF NATURE, karya Hamid Nabhan. 17-22 Pameran Lukisan: LINTAS GENERASI 2, karya Pelukis Alumni Unesa. 24-30 Pameran Lukisan: JAMU ANTI STRES, karya Endy Lukito, Imam Sucahyo, Sutamo Masteng, Hen Indira. (Manager Galeri Surabaya/ Farid Syamlan)
Minggu, November 02, 2008
PAMERAN ‘MULTIDIMENSI’: Jalan Melepas Duniawi
Langganan:
Postingan (Atom)