
Rabu, Oktober 29, 2008
Dosen STKW Pamer Lukisan Multidimensi

Sabtu, Oktober 25, 2008
Kain Perca, Pilihan Cerdas Berkesenian
Lukisan Kain Perca pun Mempesona, Lapindo yang Termahal
Media lukisan tak hanya cat minyak, acrylic, cat air, crayon, pastel, dan sejenisnya, di atas kanvas atau papan. Kain perca pun bisa jadi media lukisan yang tak kalah eksotik dan menarik. Itu dibuktikan oleh Fransisca Romana Endang Waliati saat berpameran Estetika Kain Perca di Galeri Surabaya, Balai Pemuda, Jumat (24/10).
Dalam eksibisi, seniman asal Porong, Sidoarjo, ini memajang 29 karya yang bisa dikoleksi pengunjung. Ia tak terlalu mahal mematok hasil karyanya. Hanya kisaran Rp 400.000 hingga Rp 5 juta.
Paling mahal adalah lukisan yang diberinya judul Lapindo. Ia menyebut karya ini sebagai yang terberat. Ini terinspirasi oleh situasi di sekitar rumahnya, Porong. Pengerjaan karya itu kerap terhenti oleh tangisan pengungsi.
“Bayangkan jika tiba-tiba Anda kehilangan sesuatu yang sudah lama dimiliki. Rumah saya memang belum tenggelam, tapi saya merasa kehilangan juga,” jelas Endang.
Tak hanya kain dan serat benang yang dijadikan kolase. Uang pun bisa jadi media. Karya berjudul Tiga Topeng merupakan kolase potongan uang Rp 100.000-an. “Intinya banyak media yang bisa digunakan untuk menghasilkan karya seni,” tambahnya.
Endang menekuni karya bermedia kain perca ini sejak 1985. Ia merasa nyaman, karena tak harus menghirup aroma cat dan oil yang menyengat yang kerap membuatnya alergi dan pusing.
Dengan kain perca, ibu dua anak ini semakin asyik berkarya hingga hasil kerja kerasnya itu telah tersebar hingga ke Prancis dan Belanda. (mg1/ Harian Surya, 25 Oktober 2008)
Manfaatkan Kain Perca Jadi Karya Seni Rupa
.jpg)
Selasa, Oktober 21, 2008
Tujuh Perupa Muda Unjuk Karya
Jagat seni rupa di Surabaya terus menggeliat. Tujuh pelukis muda mengadakan pameran bersama di Galeri Surabaya pada 17-23 Oktober. Mereka menunjukkan bahwa karyanya layak diapresiasi.
Tujuh perupa muda itu adalah Anas Ali Imron, Bayu Edi Iswoyo, Baqy Sururi, Didit Trianto, Febrianto, Justian Jafin W.B., dan Taufiq. Mereka adalah alumnus SMKN 11 Surabaya pada 2008. Pameran kali ini mengusung tema Me-Rock-Art (baca: meroket).
''Ada sejuta rasa saat mengadakan pameran ini. Sebab, pameran ini kali pertama bagi kami,'' kata Taufiq, 17.
Sebenarnya, ide mengadakan pameran itu sudah tercetus saat mereka masih duduk di bangku sekolah Jurusan Seni Rupa Murni SMKN 11. Namun, ada berbagai alasan yang membuat mereka ragu. ''Sempat terpikir bagaimana nanti reaksi masyarakat terhadap karya kami,'' tambah Anas, 19.
Namun, akhirnya mereka membulatkan tekad untuk mewujudkannya. Sebab, kata Taufiq, untuk memiliki jam terbang yang tinggi, mereka harus melalui proses semacam itu. ''Kami ingin menjadi seorang perupa, tidak hanya pelukis,'' tambahnya.
Dasar itulah yang membuat tujuh perupa muda itu menumpahkan isi hati mereka dalam kanvas. Mereka mengaku tidak terbebani dengan karya-karya orang lain.
Misalnya, tiga karya Taufiq. Mahasiswa Jurusan Seni Rupa Unesa itu membuat lukisan dengan teknik mixed on canvas. Karyanya yang berjudul Cinta yang Membara merupakan lukisan dekoratif.(jan, ari/ Jawa Pos, 21 Oktober 2008)
Minggu, Oktober 19, 2008
Pelukis Pemula Ingin Meroket
Sabtu, Oktober 18, 2008
Alumni SMSR Surabaya Pamer Lukisan Bersama
.jpg)
Tujuh Seniman Gelar Pameran Bersama di Surabaya
Sebanyak tujuh alumni Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Surabaya menggelar pameran lukisan bersama di Galeri Surabaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya, 17 hingga 23 Oktober 2008.
Ketujuh seniman muda berusia antara 17 hingga 18 tahun asal Kota Surabaya itu adalah, Anas, Bayu Edi Iswoyo, Febrianto, Didit T, Jafin Rock, M. Taufik dan Baqi.
Bayu Edi Iswoyo di Surabaya, Jumat, mengakui, mereka yang mengadakan pameran ini merupakan pendatang baru yang lulus tahun 2008 dan kini mengenyam pendidikan seni rupa di ISI Yogyakarta dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
"Kendati masih baru, kami ingin menatap masa depan sesuai dengan tema pameran ini, Me Rock Art yang bisa diartikan meroket. Kami ingin ke depan menghasilkan karya yang lebih baik," katanya.
Mahasiswa Unesa itu mengemukakan, lewat pameran ini, mereka ingin menampilkan identitas masing-masing dalam berkarya. Karena itu, obyek lukisan maupun gayanya tidak terikat dalam tema tertentu.
"Kami menampilkan karya yang bebas sesuai identitas masing-masing. Ada yang realis, abstrak dan ada juga yang graffiti. Kami menggunakan cat minyak dan ada juga yang menggunakan media akrilik," katanya. (meg/ kapanlagi.com, 17 Oktober 2008)
Selasa, Oktober 14, 2008
Tarian Proletar dan For Live Tampil di Balai Pemuda
Situasi prihatin tidak hanya bisa direspon dengan gerutu tapi juga menarik jadi inspirasi karya seni.
FATHUR ROJIB pelukis asal Sidoarjo misalnya, mewujudkan karya visual beraliran realisme satire dari situasi prihatin masyarakat di sekilingnya.
Sebut saja karya berjudul "Tarian Proletar". Dalam karya yang ini mengungkap cerita bagaiman getirnya rakyat kecil ini, seorang lelaki dengan telanjang kaki, telanjang dada dirantai menari demi uang receh. Sedang di pergelangan kaki kanan rantai panjang dikendalikan seekor kera sambil terkekeh.
Kata ROJIB pada RULLY reporter Suara Surabaya, Sabtu (11/10), nasib rakyat kecil seakan kera, bahkan kera pun menertawainya. Lain halnya karya ROJIB yang lain berjudul "For Live".
"For Live" juga Tarian Proletar diantara lima karya ROJIB yang sekarang dipamerkan di Balai Pemuda Surabaya. FATHUR ROJIB berpameran di Galeri Surabaya bersama S. WAHYUDI pelukis juga SANTOSO pematung.
Mereka mengangkat judul "Interrealitas". Karya-karya dalam pameran ini menyoroti situasi prihatin bangsa ini.
Seperti karya instalasi patung SANTOSO berjudul "Keputusan Terakhir". Ada enam patung nampak memakan anggota tubuhnya karena situasi getir yang dialami rakyat kecil.(Iping Supingah/ SuaraSurabaya.net, 11 Oktober 2008)
Kamis, Oktober 09, 2008
Pameran Lukisan “Disharmoni”
+2008.jpg)
Minggu, Oktober 05, 2008
Kritik Sosial dari Swiss
+2008.jpg)
Sabtu, Oktober 04, 2008
Agenda Galeri Surabaya, Oktober 2008
04-07 Pameran Seni Lukis: DISHARMONI, karya N. Roel & Dharganden. 09-15 Pameran Seni Rupa: INTERREALITAS, karya F. Rojib, G. Wahyudi & Santoso. 17-23 Pameran Lukisan: ME ROCK ART, karya Anas, Bayu El, Febrianto, Didit T, Jafin Rock, M. Taufik & Baqi. 24-26 Pameran Seni Rupa: ESTETIKA KAIN PERCA, karya Endang. 28-2November Pameran Seni Lukis Tunggal: MULTIDIMENSI, karya Hari Prajitno. (Manager Galeri Surabaya/ Farid Syamlan)
Langganan:
Postingan (Atom)