.jpg)
Sabtu, Februari 14, 2009
SUKSESI DKS: Baru Satu yang Resmi Daftar
.jpg)
Rabu, Februari 11, 2009
Lima Nama Masuk Bursa

Selasa, Februari 10, 2009
DKS Tolak Pengurus Lama
%27.jpg)
Autar: Komite Tidak Kreatif
.jpg)
Autar Janji Kembalikan DKS ke Posisi Sebenarnya
Autar Abdillah berjanji akan mengembalikan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ke posisi sebenarnya jika ia terpilih menjadi ketua dalam musyawarah yang akan digelar pertengahan Februari 2009.
"Saya akan meletakkan DKS pada posisi sebenarnya, yakni sebagai organisasi dewan kesenian. Selama ini DKS belum berada pada tempat yang sebenarnya," kata salah seorang calon Ketua DKS itu di Surabaya, Kamis.
Ia mengemukakan, DKS seharusnya bisa menentukan arah semua kebijakan kesenian dan kebudayaan di Surabaya. Karena itu DKS harus menyusun konsep strategis bagaimana kesenian dan kebudayaan di Surabaya akan dikembangkan.
"Jadi Pemkot dan instansi di bawahnya seharusnya melaksanakan kebijakan kebudayaan seperti yang dipikirkan oleh DKS. Bukan justru sebaliknya, DKS yang diarahkan. Keberadaan DKS itu memang menjadi partner Pemkot, tapi tetap harus independen," ujarnya.
Dosen teater di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengemukakan, selama ini pengurus DKS memang pernah diundang oleh Pemkot untuk menyusun kebijakan kebudayaan, namun posisinya tidak berada dalam posisi menentukan.
Ditanya bagaimana jika nantinya konsep dari DKS tidak pernah digunakan oleh Pemkot, Autar mengatakan, pihaknya akan menyentuh langsung ke kantong-kantong kesenian di Kota Pahlawan ini, seperti sekolah, kampus, seniman dan lainnya.
"Tidak harus selalu lewat pemerintah karena kami bisa menyentuh langsung kantong kesenian. Nantinya akan kami nilai apakah ada umpan balik dari program seperti itu. Kan tujuannya untuk memajukan kesenian di Surabaya juga," katanya.
Selain Autar Abdillah, calon Ketua DKS yang kini mulai muncul adalah, Desemba, Solikin Jabbar dan Sabrot D. Malioboro. Desemba dikenal sebagai pengusaha yang peduli pada kesenian, Solikin Jabbar adalah seniman lukis dan Sabrot adalah penyair.
Autar yang kini menjabat Sekretaris DKS mengaku, dirinya tidak pernah mencalonkan diri untuk memimpin dewan kesenian tersebut.
"Saya tidak pernah mencalonkan diri, tapi kalau memang teman-teman mendorong saya, saya siap. Saya sendiri sebetulnya lebih suka yang memimpin DKS itu adalah teman-teman yang memang memiliki keinginan kuat untuk maju," katanya. (Masuki M. Astro; ANTARA, 5 Februari 2009)
Calon Ketua DKS Mulai Bermunculan
.jpg)
Ketua DKS Sebaiknya Bukan dari Seniman
Ketua Dewan Kesenian Surabaya yang akan dipilih dalam musyawarah pada tanggal 7 Februari 2009 diusulkan bukan dari kalangan seniman.
"Sekarang memang muncul usulan agar ketuanya bukan dari seniman. Kalau dari seniman, dikhawatirkan bisa mengganggu kreativitas seniman itu sendiri," kata Humas DKS, Farid Syamlan di Surabaya, Rabu.
Ia mengemukakan, jika Ketua DKS bukan dari seniman, maka diharapkan bisa mengelola organisasi dengan baik untuk memajukan kesenian di Surabaya. Meskipun demikian, Ketua DKS disyaratkan harus memiliki kedekatan dengan dunia seni.
"Jadi bukan orang yang tidak mengerti seni sama sekali. Kemudian pengurus di bawahnya baru diisi oleh kalangan seniman," kata seniman teater yang juga mantan Manajer Galeri Surabaya itu.
Ia mengemukakan, figur yang saat ini sudah muncul untuk menjadi Ketua DKS adalah Desemba. Desemba adalah pelaku wiraswasta yang dikenal dekat dengan kalangan seniman, khususnya pelukis di Surabaya.
"Desemba dikenal sebagai orang organisatoris dan pernah membuat majalah budaya di Surabaya. Sampai saat ini yang muncul baru Desemba, tapi biasanya satu minggu sebelum musyawarah akan muncul figur lain," katanya.
Ia mengemukakan, tim perumus AD/ART dan tata tertib musyawarah DKS sudah bertemu dengan Wakil Wali Kota Surabaya, Arif Afandi beberapa waktu lalu. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan, musyawarah akan digelar 7 Februari 2009.
Tim perumus yang terdiri atas Yunani Prawiranegara, Sabrot D Malioboro, Rusdi Zaki, Husnul Huda Soleh, Aribowo, Amang Mawardi dan Bambang Sujiono itu telah melakukan penataan struktur pengurus DKS yang menghapus sistem presidium.
"Pada musyawarah nanti, DKS tidak akan menggunakan sistem presidium karena ternyata pimpinan dengan pola seperti itu tidak ada yang bertanggung jawab. Sekarang pengurus DKS sudah lari semua dari tanggung jawab," ujarnya.
Hal lain yang diubah adalah, masa kepengurusan yang selama ini hanya tiga tahun akan diperpanjang menjadi lima tahun. Hal itu untuk memberi kesempatan kepada pengurus mengerjakan program dalam satu periode dengan lebih baik.
Kepengurusan dan kegiatan DKS dalam beberapa tahun terakhir vakum karena banyak
pengurus yang tidak bertanggung jawab. Semua anggota presidium tidak ada yang aktif untuk menjalankan roda organisasi pada periode 2004 - 2007.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghidupkan kembali DKS, antara lain menghadap Wakil Walikota Surabaya, Arif Afandi, April 2008, namun tidak ada penyelesaian.
Bukan hanya itu, sejak tiga tahun belakangan, DKS tidak mampu membayar karyawan dan biaya telepon karena bantuan operasional Rp2 juta setiap bulan dari Pemkot Surabaya sudah tidak ada lagi. (Masuki M. Astro; ANTARA, 21 Januari 2009)
DKS Segera Pilih Ketua
%27.jpg)
Langganan:
Postingan (Atom)