DKS Adakan Musyawarah Pilih Ketua
- Setelah setahun vakum, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) akan kembali membentuk kepengurusan baru. Rencananya, 18 Februari mendatang dilangsungkan musyawarah seniman Surabaya di Gedung Utama Balai Pemuda untuk memilih ketua DKS periode 2009-2014.
Lima nama disebut-sebut masuk bursa kandidat ketua DKS menggantikan ketua lama Ivan Haryanto yang lengser tahun lalu. Kelima kandidat itu adalah Sabrot D. Malioboro (penyair), Autar Abdillah (dosen Sendratasik Unesa), R.M. Yunani (sastrawan Jawa), Solikin Jabar (musisi), dan Desenda (penikmat seni).
Menurut Sekretaris Panitia Musyawarah Hanif Nashrullah, kelima calon itu mulai ''berkampanye'' mencari dukungan kepada para seniman. ''Ada yang memang mencalonkan diri sendiri, ada juga yang dicalonkan oleh sanggar atau teman-teman seniman sendiri,'' jelasnya kemarin.
Dia menyatakan, salah satu kriteria utama kandidat ketua DKS adalah punya aktivitas kesenian di metropolis. ''Jadi, pengamat seni pun boleh mencalonkan atau dicalonkan. Pokoknya, aktivitasnya berkaitan dengan dunia seni di Surabaya,'' imbuhnya.
Namun, nama-nama kandidat yang masuk ke panitia, kata Hanif, belum tentu melaju dalam pemilihan suara. Keberadaan mereka bergantung musyawarah para seniman sebelum pemilihan. ''Musyawarah para pemilih itulah yang menentukan apakah seorang bakal calon layak menjadi kandidat ketua," jelasnya.
Para pemilih juga akan dipilih oleh panitia. Menurut rencana, diambil 200 pemilih yang diseleksi dari insan seniman metropolis yang masih aktif. ''Kalau pelukis, dinilai dari aktivitasnya mengadakan pameran. Sedangkan seniman tari dari pementasan tari yang ditampilkan,'' tutur seniman teater itu.
Dalam musyawarah yang akan digelar sebelum pemilihan tersebut, tata tertib pemilihan sepenuhnya akan ditentukan oleh para pemilih.
Ketika ditanya mengenai kevakuman DKS setahun terakhir, Hanif menjelaskan, sebenarnya beberapa teman seniman sudah berupaya melakukan musyawarah untuk melakukan penggantian pengurus. Karena itu, mereka mengirimkan surat laporan ke Wali Kota Bambang D.H. Namun, tanggapan tersebut baru datang sebulan lalu.
''Untuk itu, begitu surat dari wali kota keluar, beberapa teman langsung merencanakan pemilihan ketua baru ini," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang kandidat, Autar Abdillah mengaku siap bersaing merebut kursi ketua DKS periode 2009-2014. ''Selama teman-teman seniman menghendaki dan memercayai saya, saya siap. Sebab, yang terpenting adalah kepercayaan dari teman-teman,'' tegas Autar yang juga menjabat ketua panitia musyawarah DKS itu.(ken,ari; Jawa Pos, 10 Februari 2009)
Rabu, Februari 11, 2009
Lima Nama Masuk Bursa
DKS Adakan Musyawarah Pilih Ketua
- Setelah setahun vakum, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) akan kembali membentuk kepengurusan baru. Rencananya, 18 Februari mendatang dilangsungkan musyawarah seniman Surabaya di Gedung Utama Balai Pemuda untuk memilih ketua DKS periode 2009-2014.
Lima nama disebut-sebut masuk bursa kandidat ketua DKS menggantikan ketua lama Ivan Haryanto yang lengser tahun lalu. Kelima kandidat itu adalah Sabrot D. Malioboro (penyair), Autar Abdillah (dosen Sendratasik Unesa), R.M. Yunani (sastrawan Jawa), Solikin Jabar (musisi), dan Desenda (penikmat seni).
Menurut Sekretaris Panitia Musyawarah Hanif Nashrullah, kelima calon itu mulai ''berkampanye'' mencari dukungan kepada para seniman. ''Ada yang memang mencalonkan diri sendiri, ada juga yang dicalonkan oleh sanggar atau teman-teman seniman sendiri,'' jelasnya kemarin.
Dia menyatakan, salah satu kriteria utama kandidat ketua DKS adalah punya aktivitas kesenian di metropolis. ''Jadi, pengamat seni pun boleh mencalonkan atau dicalonkan. Pokoknya, aktivitasnya berkaitan dengan dunia seni di Surabaya,'' imbuhnya.
Namun, nama-nama kandidat yang masuk ke panitia, kata Hanif, belum tentu melaju dalam pemilihan suara. Keberadaan mereka bergantung musyawarah para seniman sebelum pemilihan. ''Musyawarah para pemilih itulah yang menentukan apakah seorang bakal calon layak menjadi kandidat ketua," jelasnya.
Para pemilih juga akan dipilih oleh panitia. Menurut rencana, diambil 200 pemilih yang diseleksi dari insan seniman metropolis yang masih aktif. ''Kalau pelukis, dinilai dari aktivitasnya mengadakan pameran. Sedangkan seniman tari dari pementasan tari yang ditampilkan,'' tutur seniman teater itu.
Dalam musyawarah yang akan digelar sebelum pemilihan tersebut, tata tertib pemilihan sepenuhnya akan ditentukan oleh para pemilih.
Ketika ditanya mengenai kevakuman DKS setahun terakhir, Hanif menjelaskan, sebenarnya beberapa teman seniman sudah berupaya melakukan musyawarah untuk melakukan penggantian pengurus. Karena itu, mereka mengirimkan surat laporan ke Wali Kota Bambang D.H. Namun, tanggapan tersebut baru datang sebulan lalu.
''Untuk itu, begitu surat dari wali kota keluar, beberapa teman langsung merencanakan pemilihan ketua baru ini," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang kandidat, Autar Abdillah mengaku siap bersaing merebut kursi ketua DKS periode 2009-2014. ''Selama teman-teman seniman menghendaki dan memercayai saya, saya siap. Sebab, yang terpenting adalah kepercayaan dari teman-teman,'' tegas Autar yang juga menjabat ketua panitia musyawarah DKS itu.(ken,ari; Jawa Pos, 10 Februari 2009)
Selasa, Februari 10, 2009
DKS Tolak Pengurus Lama
Mendekati hari pemilihan ketua DKS beragam komentar bermunculan. Solichin Jabar, berharap orang-orang lama tidak perlu menjabat lagi.
Pernyataan mantan sekjen Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Autar Abdulah dalam Surabaya Post (06/2) mendapat reaksi beragam dari seniman yang berhasil dihubungi. Diantaranya adalah pelukis Supar Pakis yang pada konvensi tahun 2003 lalu gagal menjadi presidium.
Menurut Supar Pakis hal yang menyebabkan kemerosotan DKS bukan karena biro-bironya tidak jalan, tetapi para presediumnya tidak bisa menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Menurutnya, bagaimanapun presidiumlah yang harus bertanggung jawab atas kericuhan di tubuh DKS periode lalu. “Betapa tidak, presidium dipegang oleh orang-orang goblok. Mereka itu goblok manajemen, juga goblok apresiasi terhadap kesenian,”jelasnya.
Ketika ditanya kemungkinnannya untuk mencalonkan lagi, Supar mengaku tidak ingin menjadi ketua ataupun terlibat sebagai pengurus di DKS. Pelukis yang aktif di Komunitas Seni Arek Pakis ini mengakui bahwa dirinya lebih baik berada di luar sistem kepengurusan. “Kalau berada di luar kan saya bisa bengok-bengook sak karepku (teriak-teriak semau saya)”, jelasnya.
Ditempat terpisah, Solichin Jabbar, mantan biro musik DKS, mengungkapkan bahwa tugas biro atau komite merupakan pelaksana. Jadi menurutnya, komite tidak dapat dipersalahkan ketika program tidak jalan karena dana tidak turun. “Harusnya pimpinannya, dong yang bertanggung jawab. Komite kalau ada dana, ya kerja, kalau ga ada ya gimana lagi.”
Ditambahkannya, bahwa tidak optimalnya biro atau komite pada periode sebelumnya, juga disebabkan oleh sering tidak dilibatkannya komite dalam penggarapan setiap acara atau proyek yang didapat oleh pengurus. Hal inilah yang membuat komite-komite enggan untuk bekerja secara maksimal. “Ya jangan salahkan kalau mereka pada kabur,” ujarnya.
Dikatakannya, siapapun yang menjadi ketua dan pengurus nantinya, yang terpenting adalah bukan dari pengurus yang lama. “Tolong garis bawahi, saya tidak sepakat kalau orang-orang lama masih bercokol nantinya di kepengurusan”, serunya.
Ditambahkannya, bahwa dirinya merasa tidak cocok dengan orang-orang lama di DKS. Dibuktikan dengan pengunduran dirinya dari tim SC panitia pemilihan ketua DKS 2009, karena dinilainya terdapat persaingan-persaingan kepentingan yang menurutnya itu tidak perlu terjadi. “Sebelumnya saya tergabung di kepanitiaan. Kemudian saya melihat ada persaingan-persaingan yang ga bener. Saya keluar. Masa’ dalam kesenian ada persaingan-persaingan yang seperti itu,” terangnya.
Sementara itu diinformasikan oleh Autar, tanggal pelaksanaan yang sekiranya diadakan tanggal 7 Februari mendatang, akan diundur kurang lebih tanggal 18 Februari. Pengunduran tanggal ini, diakuinya karena gedung utama Balai Pemuda yang dimintanya baru bisa dipakai tanggal 18 Februari. “Dikira oleh pihak Balai Pemuda kami pakai gedung merah putih. Padahal yang menurut kami representatif itu gedung utama”, pungkasnya. (a3; Surabaya Post, 7 Februari 2009)
Autar: Komite Tidak Kreatif
Berbagai harapan muncul pada pengurus DKS yang akan dipilih pertengahan Februari mendatang. Autar Abdillah, mantan sekjen DKS periode sebelumnya, Solikin Jabbar, seniman senior Surabaya, dan seniman muda Supar Pakis turut angkat bicara mengenai hal ini.
Kegagalan pada dua periode kepengurusan sebelumnya, membuat panitia pemilihan ketua DKS sibuk mempersiapkan formulasi untuk memilih figur yang tepat sebagai ketua DKS. Dari formulasi inilah diharapkan terpilih figur-figur pemimpin DKS yang dapat menjalankan perannya sebagai wadah dan penggerak aktivitas berkesenian di Surabaya.
Tidak terkecuali Autar Abdillah. Mantan Sekjen DKS periode sebelumnya ini kini menjabat sebagai ketua OC panitia pemilihan ketua DKS. Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, dirinya mengatakan bahwa pada perkembangannya, DKS mengalami 3 tahap, yakni tahap legitimasi, mediasi, dan konseptor. “Ketiga tahap tersebut harusnya diformulasikan untuk membentuk sebuah DKS yang baru”, ungkapnya.
Baginya DKS harus berfungsi sebagai motivator, bukan yang seperti selama ini. Menurutnya, selama ini seniman-seniman yang masuk ke DKS mengangap DKS ini merupakan tempat untuk bekerja. Padahal harusnya tempat ini membuat program-program kesenian Surabaya.
Hal ini yang menurutnya adalah kelemahan dari pengurus DKS periode sebelumnya. Dijelaskannya, kelemahan yang paling menonjol dari DKS adalah lemahnya interaksi dari pengurus DKS. Lemahnya interaksi tersebut tidak dipungkirinya.
Namun ketika disinggung mengenai biro-biro yang ada di dalamnya, Autar yang juga dosen di UNESA ini menegaskan bahwa biro yang ada di periode sebelumnya merupakan biro-biro yang berisikan orang-orang yang tidak kreatif. “Harusnya mereka itu kreatif dong. Ketika dana tidak turun, mereka harus juga bantu nyari. Jangan cuma terima jadi”, ujarnya.
Mengenai hal ini, pada dasarnya Autar Abdillah tidak memungkiri telah tercipta kondisi yang tidak harmonis. Kondisi tersebut yang menyebabkan lemahnya interaksi dan koordinasi presidium dalam mengelola DKS secara keseluruhan. “Saya tidak semata-mata menyalahkan komite. Tapi presidium juga dasarnya sudah tidak kondusif lagi.”
Kondisi yang tidak kondusif tersebut, sebenarnya sudah diantisipasi oleh Autar yang waktu itu menjabat sebagai sekjen. Diakuinya bahwa 2006 dirinya sudah mengusulkan untuk diadakan konvensi ulang guna merestrukturisasi kepengurusan. Namun hal ini tidak kunjung direspon oleh pihak pemerintah kota. “Cukup sulit memang mengadakan konvensi ulang. Sebab banyak yang harus dikonfirmasi”, singkatnya.
Format presidium yang dipakai pada periode sebelumnya, menurut Autar memang sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, dirinya sebagai ketua OC akan mengusulkan pengurus DKS periode selanjutnya akan menggunakan sistem ketua umum. Selain itu, hal ini disesuaikan dengan SK Mendagri No. 431.3015/PUOD/1995. “Belajar dari pengalaman sebelumnya, presidium sama sekali ga jalan. Berarti sekarang itu harus diubah”, jelasnya.
Sementara itu dikonfirmasi di tempat terpisah, pelukis muda Supar Pakis angkat bicara. Dirinya tidak sepakat dengan pernyataan Autar. Menurutnya presidiumlah yang harus bertanggung jawab atas kericuhan di tubuh DKS periode lalu. “Betapa tidak, presidium dipegang oleh orang-orang goblok. Mereka itu goblok manajemen, juga goblok apresiasi terhadap kesenian,” jelasnya. (a3; Surabaya Post, 6 Februari 2009)
Autar Janji Kembalikan DKS ke Posisi Sebenarnya
Autar Abdillah berjanji akan mengembalikan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ke posisi sebenarnya jika ia terpilih menjadi ketua dalam musyawarah yang akan digelar pertengahan Februari 2009.
"Saya akan meletakkan DKS pada posisi sebenarnya, yakni sebagai organisasi dewan kesenian. Selama ini DKS belum berada pada tempat yang sebenarnya," kata salah seorang calon Ketua DKS itu di Surabaya, Kamis.
Ia mengemukakan, DKS seharusnya bisa menentukan arah semua kebijakan kesenian dan kebudayaan di Surabaya. Karena itu DKS harus menyusun konsep strategis bagaimana kesenian dan kebudayaan di Surabaya akan dikembangkan.
"Jadi Pemkot dan instansi di bawahnya seharusnya melaksanakan kebijakan kebudayaan seperti yang dipikirkan oleh DKS. Bukan justru sebaliknya, DKS yang diarahkan. Keberadaan DKS itu memang menjadi partner Pemkot, tapi tetap harus independen," ujarnya.
Dosen teater di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengemukakan, selama ini pengurus DKS memang pernah diundang oleh Pemkot untuk menyusun kebijakan kebudayaan, namun posisinya tidak berada dalam posisi menentukan.
Ditanya bagaimana jika nantinya konsep dari DKS tidak pernah digunakan oleh Pemkot, Autar mengatakan, pihaknya akan menyentuh langsung ke kantong-kantong kesenian di Kota Pahlawan ini, seperti sekolah, kampus, seniman dan lainnya.
"Tidak harus selalu lewat pemerintah karena kami bisa menyentuh langsung kantong kesenian. Nantinya akan kami nilai apakah ada umpan balik dari program seperti itu. Kan tujuannya untuk memajukan kesenian di Surabaya juga," katanya.
Selain Autar Abdillah, calon Ketua DKS yang kini mulai muncul adalah, Desemba, Solikin Jabbar dan Sabrot D. Malioboro. Desemba dikenal sebagai pengusaha yang peduli pada kesenian, Solikin Jabbar adalah seniman lukis dan Sabrot adalah penyair.
Autar yang kini menjabat Sekretaris DKS mengaku, dirinya tidak pernah mencalonkan diri untuk memimpin dewan kesenian tersebut.
"Saya tidak pernah mencalonkan diri, tapi kalau memang teman-teman mendorong saya, saya siap. Saya sendiri sebetulnya lebih suka yang memimpin DKS itu adalah teman-teman yang memang memiliki keinginan kuat untuk maju," katanya. (Masuki M. Astro; ANTARA, 5 Februari 2009)
Calon Ketua DKS Mulai Bermunculan
Calon-calon Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) yang akan dipilih dalam musyawarah, awal Februari 2009, saat ini mulai bermunculan, antara lain Desemba, Solikin Jabbar dan Autar Abdillah.
"Untuk sementara ini, yang mulai terdengar dan siap maju menjadi calon Ketua DKS ada tiga orang itu. Saya yakin, nanti akan bertambah lagi pada saat mendekati musyawarah," kata Humas DKS, Farid Syamlan di Surabaya, Jumat.
Ia mengemukakan, dari ketiga calon itu, hanya Solikin yang merupakan seniman murni, sedangkan Desemba adalah pengusaha yang yang selama ini memiliki kepedulian pada dunia seni, dan Autar Abdillah adalah dosen teater di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Menurut Farid, Ketua DKS kali ini, diharapkan bukan dari kalangan seniman, agar bisa konsetrasi mengurusi organisasi yang dalam beberapa tahun terakhir ini "mati suri". Sementara kalangan seniman diharapkan lebih konsentrasi untuk berkarya.
Autar Abdillah yang saat ini juga menjabat Sekretaris DKS mengatakan, dirinya tidak pernah mencalonkan diri untuk memimpin dewan kesenian tersebut.
"Saya tidak pernah mencalonkan diri, tapi kalau memang teman-teman mendorong saya, saya siap. Saya sendiri sebetulnya lebih suka yang memimpin DKS itu adalah teman-teman yang memang memiliki keinginan kuat untuk maju," katanya menambahkan.
Peneliti teater tradisi itu mengemukakan, musyawarah untuk memilih ketua itu rencananya akan dilaksanakan 7 Februari, namun karena ruang di Balai Pemuda akan ditempati oleh kegiatan lain, kemungkinan anak diundur.
"Kalau memang tidak jadi 7 Februari, alternatifnya adalah paling lambat 14 Februari. Kami berharap, agar musyawarah ini bisa segera terlaksana, sehingga DKS bisa langsung menjalankan programnya," katanya. (Masuki M. Astro; ANTARA, 30 Januari 2009/ Grafis: Saiful Hadjar)
Ketua DKS Sebaiknya Bukan dari Seniman
Ketua Dewan Kesenian Surabaya yang akan dipilih dalam musyawarah pada tanggal 7 Februari 2009 diusulkan bukan dari kalangan seniman.
"Sekarang memang muncul usulan agar ketuanya bukan dari seniman. Kalau dari seniman, dikhawatirkan bisa mengganggu kreativitas seniman itu sendiri," kata Humas DKS, Farid Syamlan di Surabaya, Rabu.
Ia mengemukakan, jika Ketua DKS bukan dari seniman, maka diharapkan bisa mengelola organisasi dengan baik untuk memajukan kesenian di Surabaya. Meskipun demikian, Ketua DKS disyaratkan harus memiliki kedekatan dengan dunia seni.
"Jadi bukan orang yang tidak mengerti seni sama sekali. Kemudian pengurus di bawahnya baru diisi oleh kalangan seniman," kata seniman teater yang juga mantan Manajer Galeri Surabaya itu.
Ia mengemukakan, figur yang saat ini sudah muncul untuk menjadi Ketua DKS adalah Desemba. Desemba adalah pelaku wiraswasta yang dikenal dekat dengan kalangan seniman, khususnya pelukis di Surabaya.
"Desemba dikenal sebagai orang organisatoris dan pernah membuat majalah budaya di Surabaya. Sampai saat ini yang muncul baru Desemba, tapi biasanya satu minggu sebelum musyawarah akan muncul figur lain," katanya.
Ia mengemukakan, tim perumus AD/ART dan tata tertib musyawarah DKS sudah bertemu dengan Wakil Wali Kota Surabaya, Arif Afandi beberapa waktu lalu. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan, musyawarah akan digelar 7 Februari 2009.
Tim perumus yang terdiri atas Yunani Prawiranegara, Sabrot D Malioboro, Rusdi Zaki, Husnul Huda Soleh, Aribowo, Amang Mawardi dan Bambang Sujiono itu telah melakukan penataan struktur pengurus DKS yang menghapus sistem presidium.
"Pada musyawarah nanti, DKS tidak akan menggunakan sistem presidium karena ternyata pimpinan dengan pola seperti itu tidak ada yang bertanggung jawab. Sekarang pengurus DKS sudah lari semua dari tanggung jawab," ujarnya.
Hal lain yang diubah adalah, masa kepengurusan yang selama ini hanya tiga tahun akan diperpanjang menjadi lima tahun. Hal itu untuk memberi kesempatan kepada pengurus mengerjakan program dalam satu periode dengan lebih baik.
Kepengurusan dan kegiatan DKS dalam beberapa tahun terakhir vakum karena banyak
pengurus yang tidak bertanggung jawab. Semua anggota presidium tidak ada yang aktif untuk menjalankan roda organisasi pada periode 2004 - 2007.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghidupkan kembali DKS, antara lain menghadap Wakil Walikota Surabaya, Arif Afandi, April 2008, namun tidak ada penyelesaian.
Bukan hanya itu, sejak tiga tahun belakangan, DKS tidak mampu membayar karyawan dan biaya telepon karena bantuan operasional Rp2 juta setiap bulan dari Pemkot Surabaya sudah tidak ada lagi. (Masuki M. Astro; ANTARA, 21 Januari 2009)
DKS Segera Pilih Ketua
Setelah fakum satu periode pengurusan 2004-2007, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) akan mengadakan musyawarah, untuk memilih pengurus baru, pada 7 Februari mendatang. Keputusan itu diambil setelah tim perumus AD/ART dan tata tertib musyawarah DKS bertemu dengan Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi beberapa waktu lalu.
Tim perumus itu terdiri dari Yunani Prawiranegara, Sabrot D Malioboro, Rusdi Zaki, Husnul Huda Soleh, Aribowo, Amang Mawardi, dan Bambang Sujiono, bahkan telah menata struktur pengurus DKS yang menghapus sistem presidium.
Farid Syamlan salah salah aktifis DKS mengatakan, pada musyawarah nanti, DKS tidak akan menggunakan sistem presidium karena ternyata pimpinan dengan pola seperti itu tidak ada yang bertanggung jawab. “Sekarang pengurus DKS sudah lari semua dari tanggung jawab," ujarnya.
Hal lain yang diubah, masa kepengurusan yang selama ini hanya tiga tahun diperpanjang menjadi lima tahun. Hal itu untuk memberi kesempatan kepada pengurus mengerjakan program dalam satu periode dengan lebih baik.
Menurut dia, kepengurusan dan kegiatan DKS dalam beberapa tahun terakhir vakum karena banyak pengurus yang tidak bertanggung jawab. Semua anggota presidium tidak ada yang aktif untuk menjalankan roda organisasi pada periode 2004 - 2007.
Berbagai upaya dilakukan untuk menghidupkan kembali DKS, antara lain menghadap Arif Afandi, April 2008, namun tidak ada penyelesaian.
Pada tiga tahun belakangan, DKS tidak mampu membayar karyawan dan biaya telepon karena bantuan operasional Rp2 juta setiap bulan dari Pemkot Surabaya tidak ada lagi.
Sementara itu berbicara calon ketua DKS, Farid berpendapat, sebaiknya bukan dari seniman. "Sekarang memang muncul usulan agar ketuanya bukan dari seniman. Kalau dari seniman, dikhawatirkan bisa mengganggu kreativitas seniman itu sendiri," kata Farid Syamlan, di Surabaya, Rabu (21/1).
Ia mengemukakan, jika Ketua DKS bukan dari seniman, diharapkan bisa mengelola organisasi dengan baik untuk memajukan kesenian di Surabaya. Meskipun demikian, Ketua DKS disyaratkan harus memiliki kedekatan dengan dunia seni.
"Jadi bukan orang yang tidak mengerti seni sama sekali. Kemudian pengurus di bawahnya baru diisi oleh kalangan seniman," kata seniman teater ini.
Ia mengemukakan, figur yang saat ini muncul untuk menjadi Ketua DKS adalah Desemba. Desemba merupakan wiraswasta yang dikenal dekat dengan kalangan seniman, khususnya pelukis di Surabaya.
"Desemba dikenal sebagai organisatoris dan pernah membuat majalah budaya di Surabaya. Sampai saat ini yang muncul baru Desemba, tapi biasanya satu minggu sebelum musyawarah akan muncul figur lain," katanya. (Masuki M. Astro; ANTARA/Rachmad Giryadi; Surabaya Post, 22 Januari 2009)
Senin, Desember 29, 2008
M Syafii Pamerkan Karya di Galeri Surabaya
MOHAMMAD SYAFII Pelukis Surabaya memamerkan 16 karyanya di Galeri Surabaya mulai Kamis (25/12) malam. Pameran ini dibuka SABROT D MALIOBORO satu diantara budayawan Surabaya.
Dari 16 karya yang disiapkan SYAFII, seperti dilaporkan RULLY reporter Suara Surabaya, menghadirkan karya Mix Media, karya 2 dimensional, dan karya lukis di atas kanvas. Konsepnya sendiri, kata SYAFII, bersumber dari kehidupan sehari-harinya. Ada yang mengenai orang kaya dengan orang miskin, hubungan antara Tuhan dengan manusia, tentang perekonomian, dan sebagainya.
Di depan pintu masuk terlihat ada 1 luklsan yang menyerupai gambar YESUS. Ketika dikonfirmasi, SYAFII menjawab, lukisan tersebut sebenarnya penggambaran dirinya dimana 3 tahun kemarin merasakan beban perekonomian yang sulit. Pengeluaran selalu lebih besar daripada pemasukannya.
Ke-16 pameran tersebut akan berlangsung sampai 31 Desember 2008 mendatang. (rdy, tin; suarasurabaya.net, 25 Desember 2008)
Kamis, Desember 25, 2008
Perupa Agus Gembel Pamer Cinta dan Keluarga
Perupa asal Surabaya, Agus Gembel HST memamerkan karyanya bertema "Cinta... Adalah Sebuah Ruang Keluarga" di Galeri Surabaya, kompleks Balai Pemuda, 17 hingga 23 Desember 2008.
"Dalam bahasa Inggris, ruang keluarga justru disebut dengan 'living room' yang secara harfiah adalah ruang hidup. Ruang keluarga, menurut dia adalah titik temu," kata perupa kelahiran Yogyakarta, 2 Oktober 1971 itu di Surabaya, Kamis.
Menurut dia, ruang keluarga itu merupakan tempat untuk berkumpul dan berkativitas anggota keluarga. Di situ ada kasih sayang, cinta sekaligus benci, pertengkaran dan lainnya yang semuanya tetap bermuara pada cinta.
Pada karyanya ini, ia ingin menyampaikan bahwa cinta tidak hanya berkaitan dengan sayang, suka, kangen, keindahan dan lainnya, tapi juga perasaan sedih, benci, marah, kenes, berantem, bahkan juga sifat jahat.
"Cinta yang sempurna adalah cinta yang lengkap komponen-komponen pembentuknya. Cinta adalah sebuah kompleksitas yang absurd, namun tidak dapat disangkal oleh logika," kata seniman yang juga aktif menulis puisi, lagu dan naskah teater, khususnya monolog itu.
Agus menghadirkan semua bentuk seni rupa dalam pamerannya ini, yakni lukisan, patung dan fotografi yang mengambarkan bertemunya berbagai rasa dalam kehidupan suatu keluarga.
Untuk Pada seni patung, ia mengahdirkan karya yang menggunakan berbagai media, seperti kayu, kain batik, benang dan lainnya. Untuk fotografi yang telah diolah kembali, ia menghadirkan sosok-sosok Gus Dur, monalisa dan lukisan ia menampilkan karya abstrak. (Masuki M. Astro; ANTARA, 18 Desember 2008)
Komik Buatan Indonesia di Galeri Surabaya
Sekitar 25 komik karya mahasiswa Stikomp Surabaya dipamerkan di Galeri Surabaya, kompleks Balai Pemuda, 11-14 Desember 2008 dengan tema, "Made in Indonesia"."Mereka yang berpameran adalah mahasiswa Stikomp yang tergabung dalam `Komputer Grafis Community`. Selain komik, juga ada karya animasi," kata Manajer Galeri Surabaya, Farid Syamlan di Surabaya, Kamis malam.
Ia mengemukakan bahwa pada pameran ini peserta ingin menampilkan hasil kreasinya di tengah banyaknya komik karya seniman asing di Indonesia. Komik-komik asing itu justru sangat diminati anak-anak di Indonesia."Makanya judul pameran ini adalah, `Made in Indonesia`. Kami berharap, kreasi anak-anak muda ini bisa menjadi semangat bagi seniman lain untuk berkarya sehingga pada akhirnya komik Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri," ujarnya. (ANTARA via Republika Online, 4 Desember 2008)
Kamis, November 27, 2008
Pameran Karya Antistres
Kaleng biskuit ternyata bisa menjadi wadah berekspresi bagi seniman. Itulah yang dilakukan oleh Hen Indira. Dia mengaplikasikan lukisan pada kaleng tersebut.
Lukisan pada kaleng biskuit itu merupakan salah satu karya seni rupa yang bisa disaksikan dalam pameran bertajuk Jamu Anti Stress di Galeri Surabaya mulai kemarin (26/11) hingga 30 November mendatang. Selain Hen, tiga perupa yang memajang karya masing-masing adalah Endy L., Imam Sucahyo, dan Sutarno Masteng.
Tidak hanya memanfaatkan kaleng, papan skateboard juga menjadi media berekspresi. Papan tersebut digantung di atas sebuah plastik berwarna biru. Plastik itu bertulisan safety first. Sedangkan di balik papan skateboard terdapat sejumlah stiker bernada peringatan, seperti dangerous when wet (berbahaya jika basah). Karya instalasi tersebut mengingatkan pengunjung agar mengutamakan keselamatan.
Hen juga berkreasi dengan piring plastik. Dengan menggunakan 20 piring plastik, pria 29 tahun itu melukis gambar makanan-makanan yang sehari-hari disantap orang. Antara lain, mi goreng, tempe penyet, dan telur mata sapi. Tidak ada makna mendalam di balik karya tersebut. "Hanya, supaya kita kenyang saja," jelasnya.
Sutarno memilih media konvensional, yaitu kanvas. Medianya mungkin biasa, tapi objek yang dipilih tidak biasa. (ken, ari; Jawa Pos, 27 November 2008/ Foto: Totok Sumarno; suarasurabaya.net)
Rabu, November 26, 2008
Anjing-anjing Berlari Gelisah
Sapuan warna hitam dan putih dari acrylic di atas kanvas abu-abu. Melingkarlingkar bagai benang kusut yang tak terurai. Begitu kelam seperti memendam kegelisahan. Sepintas memang hanya kelam.Tapi lebih dalam lagi di balik sapuan itu, akan “terlihat”anjing-anjing berlarian. Lari mencari kebebasan. Itulah salah satu karya yang dipamerkan Endy Lukito di Galeri Surabaya, Kompleks Balai Pemuda, kemarin. Lukisan berjudul Running Out Series 1 itu dibuatnya dalam tiga versi. Ada juga Running Out Series 2 dan Running Out Series 3. Endy sengaja melakukan eksplorasi garis untuk membebaskan diri dari kungkungan konvensi.“ Tidak salah kalau ada yang bilang anak TK bisa melukis seperti ini,” kata Endy. Yang membedakan adalah proses dan semangat yang terpancar dari goresan tersebut. “Saya memang sedang gelisah,” kata seniman berkacamata ini. Pameran lukisan bertema Jamu Anti-Stress ini juga menampilkan karya pelukis, Imam Sucahyo, Sutarno Masteng, dan Hen Indira. Untuk menyelesaikan lukisan Running Out Series, Endy mengaku butuh waktu sekitar tiga minggu. “Melukisnya memang tidak lama. Tapi proses pencarian gagasan dan kontemplasinya yang butuh waktu,” kata cowok yang pernah kuliah di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu. Menariknya, Endy baru menemukan “sesuatu” dalam lukisan itu setelah menyelesaikannya. Awalnya, Endy sengaja mencoba lari dari proses yang telah dijalaninya selama ini. Hingga akhrinya ia memutuskan mengeksplorasi garis untuk mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Hasilnya, Endy baru menyadari ternyata ia ”melihat” ada anjing- anjing berlarian dalam goresan monochrome. Karya lain berjudul Pesan Para Binatang juga tidak kalah menariknya. Lukisan ini memang lebih mudah dinikmati masyarakat umum. Pelukisnya, Hen Indira, mengaku sengaja ingin menyampaikan betapa manusia sering memfitnah binatang. Dalam karya itu ada gambar beberapa hewan. Gambar itu dituangkan di atas bahan logam dari kaleng bekas. Gambar kuda bertuliskan kerja,burung bertuliskan plagiat, kepala harimau bertuliskan raja, ayam bertuliskan jagoan, tikus bertuliskan maling, sapi bertuliskan perah, dan bebek bertuliskan mbebek. Sementara lukisan kepala serigala dibiarkan tanpa tulisan. ”Kita sering memfitnah binatang, kita pasti menuding tikus suka nyolong makanan,” kata Hen Indira. Padahal, manusia sendiri tidak sadar telah memiliki sifat-sifat itu. Lalu mengapa kepala serigala tanpa tulisan? Kata Hen Indira, itu memang untuk memberi ruang pada penikmat untuk memaknainya sesuai hati nurani. ”Makanya, lukisannya ’kan menjorok ke dalam. Ya di dalam hati nurani,” ucapnya sambil memegang dada. Sedangkan Masteng menampilkan karya yang dibuatnya dari bahan acrylic dan ballpoint. Lukisan berjudul Kosong itu menyampaikan betapa masih ada kekosongan di hati pelukisnya. Dengan goresan ballpoint melingkar-lingkar tercipta bentuk batu-batu yang berserakan. Kata Masteng, lukisan itu memang berangkat dari kekosongan hatinya. Lukisan yang mengambil tema aktual dan faktual adalah Bau, karya Imam Sucahyo. Tergambar seorang pria menggunakan bra dan menghunus pisau. Di sampingnya tertulis kata-kata, Alway Back to The Prex Ketek. Imam mencoba menyejajarkan kasus mutilasi dan pembunuhan berantai yang dilakukan Verry Idham Henyansyah alias Ryan dengan kasus korupsi. Secara kasatmata, Ryan memang tampak berbahaya, padahal koruptor bisa membunuh lebih banyak penghuni bangsa ini. Pria yang pernah kuliah di Akademi Seni Rupa dan Desain Yogyakarta ini mengaku membuat karya tersebut secara spontan. “Setelah melihat televisi, muncul ide ini.Langsung saja saya tuangkan,” katanya. (Zaki Zubaidi; Koran Sindo, 25 November 2008/ Foto: Totok Sumarno; suarasurabaya.net)
Pameran Jamu Anti Stress
Menghadirkan berbagai karya, komunitas seniman muda dari Surabaya, dan Tuban, berkolaborasi dalam Pameran Jamu Anti Stress. Digelar di Galeri Surabaya, satu di antara karya HEN INDRA dari Tuban, sangat menggelitik. Mengusung mix media, yang memadukan akrilik dan berbagai media lainnya, menyodorkan gagasan tentang fitnah terhadap satwa. "Tikus selalu dianggap sebagai lambang korup. Padahal, tidak semua tikus korup. Ini fitnah toh," ujar HEN INDRA. (Totok Sumarno/ suarasurabaya.net, 25 November 2008)
Jamu Anti Stress di Balai Pemuda
Adalah sesuatu yang wajar jika melukis di kanvas yang kemudian dipigura. Selanjutnya karya itu bisa dinikmati pengunjung pameran dengan ditempelkan pada dinding atau papan datar horisontal. Tapi pada pameran lukisan Jamu Anti Stress yang digelar di Galeri Surabaya, Balai Pemuda, Selasa (25/11), cukup berbeda. Ada beberapa lukisan yang dibuat di atas media plastik dan papan skateboard serta permukaan kaleng berbentuk kotak.
Tak kalah beda, piring yang permukaannya bergambar berbagai jenis makanan, tampak dijajarkan di tengah ruang pamer. “Jajaran lukisan di piring ini adalah imajinasi atau makanan ilusi,” kata Hen Indira, pelukis piring. Selain Hen, juga dipamerkan lukisan karya Imam Sucahyo, Endy L, dan Sutarno Masteng.
Beberapa pengunjung pameran, memang tampak terkejut dengan lukisan yang dipamerkan. Apalagi bisa dibilang bentuknya awut-awutan. “Tapi kami sadar, karya seniman memang aneh-aneh. Bagi saya cukup menarik lah,” ujar Wibawa, salah satu pengunjung.(rie/ Harian Surya, 26 November 2008)
Senin, November 24, 2008
Taufik 'Monyong' Gelar 'Agretion'
Masih merespon persoalan sosial masyarakat, TAUFIK MONYONG pelukis Surabaya kembali meluncurkan karya-karyanya dalam sebuah pameran “Agretion” di Balai Pemuda, mulai Senin (17/11) ini. Dalam pameran ini, ia juga menampilkan bentuk multimedia.
Pameran ini merupakan pameran kelima TAUFIK di tahun 2008. Sebelumnya, ia sudah pernah menggelar pameran Revolution, Lintas Generasi, On the street dan pembuatan video art kontemporer Agretion. Video art tersebut akan ditampilkan dalam pameran bertajuk sama mulai hari ini.
“Masih respon terhadap persoalan sosial, kemasyarakatan. Bagaimana hidup bermasyarakat dan bernegara. Bicara tentang hukum, etika, sosial. Dan perspektif ke depan,” kata TAUFIK saat ditemui suarasurabaya.net, Senin (17/11).
Lukisan-lukisan beraliran ekspresionis khas TAUFIK, siap terpampang di galeri kompleks Balai Pemuda. Kebebasan, suara rakyat bahkan protes terhadap perilaku diskrimantif kepada perempuan digambarkan lewat goresan cat acrylic TAUFIK.
Di tengah ruangan, terdapat kain sepanjang 10 meter yang terdiri dari 4 lukisan. Kain tersebut terpasang pada 4 buah tongkat yang diatasnya ditutup kain hitam. “Menggambarkan kuburan, makam,” kata TAUFIK.
Lalu, kematian apa yang ingin ditunjukkan ? “Kematian keadilan, polisi hanya bisa menilang. Perempuan mendapat perilaku diskriminatif, konglomerasi yang ikut mencerdaskan bangsa tapi bullshit, dan semangat yang lenyap,” ungkap TAUFIK.
Di atas vespa miliknya, pameran ini juga akan diwarnai dengan video art kontemporer sebagai bentuk pertunjukan multimedia. Dalam video itu, TAUFIK mengendarai vespa sepanjang Sidoarjo dan Surabaya, menyuarakan agresi. (Text & Foto: Agita Sukma Listyanti/ suarasurabaya.net, 17 November 2008)
Prajurit Roma Berbahasa Kuba Naik Vespa
Hasta la victoria seem pre! Prajurit Roma itu terus meneriakkan pekik perjuangan,maju terus pantang mundur.
Aneh memang, seorang prajurit Roma naik vespa butut melakukan orasi dengan bahasa Kuba mengelilingi Surabaya. ”Patria o muerte! Vox populi vox dei!” teriak prajurit Roma berkulit sawo matang itu yang berarti, tanah air atau mati, suara rakyat suara Tuhan. Begitulah adegan dalam video art yang ditampilkan Taufik Monyong dalam pameran yang bertajuk Agretion.
Video tersebut semakin terkesan heroik karena diiringi lagu underground dari band asal Surabaya, Pejah. Pameran lukisan di Galeri Surabaya Balai Pemuda ini gelar dari 17 hingga 21 November mendatang. Selain Monyong, pameran itu menampilkan lukisan karya Junaidi dan Poernadi. Memasuki ruang pamer, pengunjung disuguhi batubatu nisan berbalut kain hitam.
Pada dindingnya tergantung lukisan-lukisan bertema semangat agresi. Di antara lukisan-lukisan itu nangkring vespa butut penuh coretan. Di atasnya, televisi 14 inci memutar aksi gila Taufik Monyong bak prajurit Roma tadi berkeliling Surabaya. ”Inilah kontemporer,” jawab Monyong saat ditanya mengapa prajurit Roma malah berbahasa Kuba.
”Indonesia sudah saatnya melakukan agresi, perluasan atau ekspansi. Persoalan rumah tangga seperti harga BBM maupun pornografi seharusnya sudah selesai,” kata Monyong yang membutuhkan waktu tiga bulan menyiapkan pameran ini. Vespa butut adalah simbol agresi negara lain ke Indonesia. Agresi negara lain itu kini sudah dianggap kuno (butut) dan sudah waktunya berbalik, Indonesia yang melakukannya. Bahasa Kuba yang digunakannya tidak lebih dari bentuk kekagumannya sang pemimpin gerilya Che Guevara.
“Sebelum beraksi, saya harus menghafalkannya lebih dulu,” katanya sambil tertawa. Sementara prajurit Roma sudah pasti semangat ekspansi yang disampaikannya. Ada yang menarik saat ditanya dari mana Monyong mendapat ide pameran dan video art ini. Mantan aktivis 98 itu mengaku, gagasan berawal dari mimpinya bertemu Soekarno, Presiden RI pertama.
“Waktu mimpi itu, saya sedang naik vespa. Lalu Soekarno bilang urusan rumah tangga negara ini seharusnya sudah selesai. Sudah saatnya melakukan agresi,” kata Monyong dengan mimik serius. Selain video art, Monyong menampilkan 14 lukisan, sedang Poernadi menampilkan 1 lukisan, dan Junaidi menampilkan 4 lukisan.
Salah satu lukisan berjudul “Freedom” tampak begitu sangar dan emosional.”Gerakan menuju perubahan bisa dianggap orang lain bagai pengaruh jahat.Padahal,semua itu diperjuangkan untuk menuju sebuah kemerdekaan,freedom,” kata Monyong. (Zaki Zubaidi, Koran Sindo, 17 November 2008)
Pameran ‘Agretion’, Jangan Melupapakan Sejarah
Dua alumni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan satu alumni Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Surabaya berkolaborasi dalam pameran lukisan betajuk “Agretion” di Galeri Surabaya (GS) mulai Senin (17/11). Pameran hingga 22 November mendatang memajang 17 lukisan yang tujuannya mengajak untuk berjuang meraih kemerdekaan.
“Secara ekonomi Indonesia belum merdeka, masih terjajah Amerika, seperti kasus Freeport,” kata pelukis Purnadi yang didampingi pelukis lainnya, Taufik Monyong dan Junaidi saat pembukaan.
Dari total lukisan yang dipajang, Purnadi memajang satu karya, Taufik sebelas karya dan sisanya karya Junaidi. Purnadi memajang karyanya berjudul Jangan Lupakan yang Lalu. Lukisan ekspresionis – surealis berukuran 150 × 80 cm menggambarkan sebuah tangan dan kaki yang tumbuh dari buah semangka yang bercucuran air.
Seabuah tangan berusaha meraih “damar” sedangkan kakinya berupaya menggaet kursi. Di atas kursi digambarkan sebuah matahari. “Setiap kehidupan dengan simbol semangka membutuhkan sebuah pengorbanan dan usaha untuk mencapai tujuan,” jelas Purnadi. Kaki dan tangan adalah upaya untuk mencapai penerangan dan kekuasaan. Melalui kekuasan dan penerangan, manusia bisa memberikan pengaruh terhadap dunia yang dilambangkan dengan matahari.
Kaitannya dengan “Agretion,” jangan sekali-kali lupakan sejarah, kemerdekaan yang dapat dinikmati sekarang dan dulunya dibayar tetes darah para pahlawan. Demi mencapai kemerdekaan, para pejuang rela mengorbankan nyawanya. Indonesia secara de facto telah merdeka dan kemerdekaan ini dapat dinikmati oleh anak-cucu.
“Karya ini juga dapat dinilai secara religi untuk mencapai yang ‘Tunggal’ dan diperlukan sebuah usaha dan perjuangan yang luar biasa,” katanya.
Sementara Taufik memfavoritkan karya People Power. Lukisan ini menggambar lima wanita yang berusaha memberontak tradisi yang selama ini cuma dianggap sebagai komunitas. “Pameran kali ini tidak hanya menampilkan lukisan saja tapi ada pagelaran musik dan pemutaran video,” Taufik.
Pada videonya dia berusaha berkomunikasi untuk memberikan perubahan. Dalam rekamannya, Taufik keliling Surabaya dan Sidoarjo sambil berorasi. “Indonesia telah bangkit, Indonesia harus berpikir menjajah negara lain,” katanya. (K13/ Surabaya Post, 19 November 2008)
Keindahan Alam Goresan Hamid Nabhan
Ada suasana pedesaan dan hawa segar saat memasuki Galeri Surabaya, Balai Pemuda. Suasana itu tercipta dari lukisan-lukisan alam karya Hamid Nabhan yang dipamerkan mulai kemarin (12/11) hingga 16 November nanti. Hamid membawa 23 lukisan dengan tema yang sama: Symphony of Nature.
Pelukis Surabaya tersebut menuturkan, alamlah yang mengajarinya melukis. Meski begitu, dia merasa prihatin dengan kondisi alam yang kini telah berubah, tak lagi indah. Manusia telah merusaknya.
Seperti dalam lukisan berjudul Pohon I yang dituangkan dalam kanvas 98 x 98 cm. Dalam lukisan yang diambil on the spot di Trawas itu, Hamid melukis batang pohon besar. Menurut dia, kondisi asli lokasi tersebut subur dan penuh tumbuhan hijau dan rimbun. Tapi, dalam lukisannya dia justru menampilkan objek batang pohon yang kering, tanpa daun.
"Ini memang sindiran. Kita telah kehilangan paru-paru kehidupan. Banyak pohon yang ditebang semena-mena," ucapnya.
Karya yang dipamerkan kali ini merupakan garapan Hamid sejak 2006 hingga 2008. Dia mengerjakannya dalam dua pola: on the spot (langsung di lokasi) dan di studio.
"Ketika melukis on the spot, saya bisa merasakan keindahannya secara langsung. Kendalanya masalah peralatan, cukup repot kalau membawa peralatan yang besar," katanya.
Karena itu, lukisan on the spot biasanya lebih kecil dibandingkan lukisan di studio. Di studio, dia bisa leluasa bekerja. "Kalau di studio, saya bisa melukis dari hasil foto," tuturnya.
Untuk objeknya, Hamid harus mencari yang sehati dengan obsesinya. Dia lebih suka berburu cahaya-cahaya yang menyinari objek sehingga tercipta sebuah keindahan alam yang berdimensi dan nyata. Itu sesuai dengan kekagumannya terhadap gaya impresionis. "Bagi saya, lukisan impresionis terasa lebih hidup," ujarnya. (jan, ari/ Jawa Pos, 13 November 2008)
Jumat, November 07, 2008
Harmoni Aliran di Balai Pemuda
Tidak mudah menyatukan berbagai gaya dan aliran para seniman. Namun, itu bukanlah hal yang mustahil. Bertajuk Harmoni, pameran lukisan di Galeri Surabaya, Balai Pemuda, hingga 9 November mendatang itu mencoba membuktikan perpaduan tersebut.
Sebanyak 24 lukisan karya 17 seniman dari kelompok Serumpun Bambu terpajang memutari ruangan galeri. Berbagai objek dan aliran mencoba memberi suguhan menarik untuk penikmat lukisan. Mulai gaya realis, dekoratif, surealis, hingga kaligrafi tersaji dengan berbagai teknik dan media. Ada yang menggunakan media palet. Ada juga yang memakai tinta dengan teknik drawing.
Salah seorang pelukis yang menggunakan palet adalah Ahmad Djunaidi. Dalam pameran tersebut, pelukis 31 tahun itu menyumbangkan dua karya. Membidik objek kawasan Pasar Pabean dan Jembatan Merah, Djunaidi menyuguhkan lukisan bergaya realis impresionis yang kental dengan gaya goresan spontan. Dua lukisan tersebut dilukis langsung di tempat alias on the spot. Hasilnya, Djunaidi berhasil merekam segala aktivitas orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar kawasan tersebut. Ada kumpulan para pedagang, ada juga sekawanan laki-laki bersepeda.
Pemilihan objek tersebut beralasan. "Saya ingin mengabadikan bangunan dan kawasan bersejarah Surabaya pada zaman sekarang. Sebab, di masa yang akan datang, bangunan-bangunan itu belum tentu masih ada," jelas Djunaidi.
Untuk lukisan bergaya dekoratif, pelukis muda Ali Topan menyuguhkan satu lukisan. Mengambil tajuk My World, Ali menggambarkan detail dunia anak-anak sesuai dengan daya imajinasi. Dengan menggunakan media cat acrylic, dia melukis anak-anak yang tengah berlarian, sapi terbang, hingga kuda dengan badan bermotif kotak-kotak di sebuah padang rumput yang penuh dengan jamur berukuran raksasa. Lukisan dekoratif itu disebut naive decorative.
Selain lukisan realis dan dekoratif, ada juga lukisan surealis yang bisa disaksikan. Salah satunya, karya pelukis Suyono. Lewat karyanya yang berjudul depression, Suyono mengambil objek sebuah sepatu bot hitam berukuran besar yang terisi penuh dengan cairan hijau. Saking penuhnya, cairan tersebut tumpah ke lantai. Tepat di atas sepatu tersebut, terdapat sebuah tangan berbalut sarung tangan putih yang membawa sebuah tongkat. Lukisan itu merupakan simbol otak manusia yang memiliki keterbatasan.
Pameran lukisan bersama tersebut merupakan pameran perdana dari Serumpun Bambu. Berawal dari kegiatan kumpul-kumpul para pelukis itu memiliki ide untuk membentuk kelompok dan akhirnya mengadakan pameran bersama. (ken, ayi/ Jawa Pos, 6 November 2008)
Kamis, November 06, 2008
Agenda Galeri Surabaya, November 2008
04-09 Pameran Lukis Bersama Serumpun Bambu: HARMONI. 12-16 Solo Exhibition: SYMPHONY OF NATURE, karya Hamid Nabhan. 17-22 Pameran Lukisan: LINTAS GENERASI 2, karya Pelukis Alumni Unesa. 24-30 Pameran Lukisan: JAMU ANTI STRES, karya Endy Lukito, Imam Sucahyo, Sutamo Masteng, Hen Indira. (Manager Galeri Surabaya/ Farid Syamlan)
Langganan:
Postingan (Atom)